Workshop Perdana: Drs. Samudi Hadirkan Spirit Baru dan Jejak Mendalam bagi Guru MTs–MA Nurul Ilmi
19 Oct 2025
Workshop Perdana: Drs. Samudi Hadirkan Spirit Baru dan Jejak Mendalam bagi Guru MTs–MA Nurul Ilmi
Jepara, Pagi yang teduh di Bategede menjadi saksi hadirnya semangat baru di Aula MTs Nurul Ilmi. Di bawah kepemimpinan dan pembinaan pengawas madrasah, Drs. Samudi, workshop perdana bertajuk “Penyusunan Perangkat Pembelajaran Mendalam dan Berbasis Cinta” resmi digelar, diikuti oleh seluruh guru MTs dan MA Nurul Ilmi.
Sejak sesi pertama dimulai, suasana terasa berbeda. Workshop ini bukan sekadar forum teknis atau rutinitas pengisian format pembelajaran. Ia menjadi ruang penguatan ruh, identitas, dan martabat seorang guru.
“Guru itu Digugu, Namun Tak Semua Patut Ditiru”
Di hadapan para peserta, Drs. Samudi menyampaikan sebuah kalimat yang langsung menghentikan riuh, meninggalkan jeda hening yang sarat renungan:
“Guru itu harus bisa digugu, tapi tidak semua harus ditiru.”
Pesan pendek, namun luas maknanya. Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi tentang menata akhlak, tutur, sikap, dan batas-batas moral. Guru memang teladan — namun keteladanan itu harus hadir melalui kesadaran, bukan kepura-puraan.
Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat lain yang membuat banyak peserta tersenyum, sekaligus merenung:
“Gaji itu tetap. Tapi rezeki? Mengalir—kadang kecil, kadang besar.”
Sebuah pengingat lembut bahwa tugas guru bukan mengejar angka, melainkan keberkahan. Rezeki tidak selalu datang lewat slip gaji — tetapi lewat doa murid, manfaat ilmu, dan pahala yang abadi.
Apresiasi Yayasan: Saatnya Nurul Ilmi Bangkit dan Bergerak
Dalam sambutannya, Slamet, S.Ag., M.Pd.I, mewakili Yayasan Islam Nurul Ilmi, menyampaikan harapan besar:
“Sudah cukup lama guru-guru kami tidak mendapatkan pembinaan sesuai perubahan regulasi. Kami berharap workshop ini menjadi titik balik. Semoga ilmu yang disampaikan Pak Samudi menjadi energi bagi kemajuan lembaga ini.”
Kata-kata itu disambut antusias. Para guru mengikuti setiap sesi dengan fokus dan semangat, bukan karena kewajiban, tetapi karena merasa dibangunkan kembali.
Mengajar Bukan Hanya dengan Pikiran, Tetapi Juga dengan Cinta
Workshop ini mengajak guru untuk kembali pada niat terdalam: mengapa saya memilih menjadi guru?
Di situlah inti kegiatan ini terasa kuat. Bahwa perangkat pembelajaran tidaklah bernilai jika tidak membawa cinta, kedalaman, dan keteladanan. Bahwa kurikulum hanya menjadi teks, jika tidak dihidupkan oleh akhlak, adab, dan kasih seorang pendidik.
Workshop perdana ini akhirnya meneguhkan satu kesadaran bersama:
“Guru bukan hanya profesi. Guru adalah jalan pengabdian.”
Epilog: Langkah Baru Telah Dimulai
Dengan dimulainya pembinaan oleh Drs. Samudi, MTs–MA Nurul Ilmi telah melangkah pada fase baru. Fase yang lebih terarah, lebih berkarakter, dan lebih bernapas pendidikan berjiwa.
Kini Nurul Ilmi melangkah dengan tekad:
Mengajar bukan hanya untuk mencerdaskan, tetapi juga untuk membersihkan hati, menumbuhkan adab, dan menanamkan cahaya peradaban.